gravatar

"Humor Terapan" Ala Pidi Baiq

Judul Buku: Drunken Monster; Catatan Harian Pidi Baiq
Penulis: H. Pidi Baiq
Kata Pengantar : Prof. Dr. Bambang Sugiharto
Penerbit: DAR! Mizan, Bandung
Tahun Terbit: Cet. I, Januari 2008
Tebal Buku: 204 Halaman

URANG Sunda, katanya, senang bercanda. Pernyataan itu mungkin benar adanya. Masyarakat Indonesia memiliki tokoh humoris yang lahir dari rahim tanah pasundan, yaitu Si Kabayan. Namun, tanpa adanya Si Kabayan pun, kita harus percaya bahwa canda dan tawa adalah darah yang mengalir di urat dan daging masyarakat Sunda. Pidi Baiq melalui Drunken Monster kian menegaskan hal itu.

Pada sampul muka buku ini tertulis, "Baru...Penulisnya masih bingung, ini cerpen atau catatan harian?" Benarkah kalimat itu sekadar pemanis untuk menarik pembaca yang mampu melihat sampulnya saja?

Sebuah tulisan bisa disebut sebagai karya sastra karena beberapa faktor. Doktrin yang terkenal adalah tulisan tersebut harus "mendidik dan menghibur". Menurut Subagyo Sastrowardoyo, nilai suatu karya sastra baru bisa diperoleh jika individu yang menulisnya, mampu menautkan perhatian pada diri dan dunia di luar dirinya. Hingga, menurut Utuy Tatang Sontani, ada emosi yang terikat antara penulis dan pembaca. Jika demikian, laiklah kumpulan 18 tulisan Pidi Baiq dalam buku ini kita sebut sebagai karya sastra (cerpen).

Kalau Pidi sendiri menyebut karyanya sebagai catatan harian, saya bisa maklum. Ia hanya bercerita tentang kejadian-kejadian yang seolah (atau sungguh?) dijalaninya dalam satu hari. Latar seluruh kisah dalam Drunken Monster sederhana saja. Hanya Bandung, ITB, kompleks perumahan dan rumah tangga Pidi Baiq. Akan tetapi, justru kemahiran Pidi meramu cerita sungguh tampak dalam buku ini. Apalagi, ia "bermain-main" dalam sastra genre humor, yang jika tiada hati-hati rawan menimbulkan "kekeringan" cerita.

Humor Pidi, saya sebut sebagai "humor terapan". Sebuah genre yang sebenarnya jarang disentuh oleh penulis sastra humor-bahkan para pelawak di televisi pun jarang menggarapnya. Humor seharusnya tak sekadar membuat kita terpingkal-pingkal, bukan sebuah rentetan kalimat atau adegan yang sarat dengan canda, namun bermakna dangkal. Humor selaiknya juga bisa membuat kita melongok ceruk hati yang terdalam. Inilah potensi humor yang mampu diramu dengan ciamik oleh Pidi. Humor yang tak sekadar menggoda sambil bercanda saja. Humor Pidi mengajak pembaca untuk melongok jiwa manusia yang putih dan bersih. Begitulah, melalui Drunken Monster, Pidi Baiq telah menghibur kemudian mendidik.

Cerita Pidi Baiq adalah humor yang utuh walau ia sering ke mana-mana dalam rangkaian paragrafnya. Pidi Baiq, seolah bermonolog ria dalam tulisannya, namun tak lupa pada esensi dialog yang menjadi ciri karya sastra. Inilah kiranya, keistimewaan karya Pidi Baiq, ketimbang lawakan yang ada di televisi atau buku-buku humor yang banyak beredar di negeri kita.

Melalui buku ini, Pidi Baiq seolah "berdakwah" kepada kita bahwa yang kurang dari masyarakat modern adalah interaksi nan guyub. Dengan kisah-kisah yang tidak klise, Pidi membawa pembaca untuk senantiasa mengutamakan humor dalam merekonstruksi masyarakat yang kian individualistis. Oleh karena itu, segala gaya ngabodor yang dituliskan Pidi Baiq dalam buku ini bisa pula kita terapkan dalam keseharian.

Buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi yang juga dikerjakan sendiri oleh Pidi. Ilustrasi yang menggambarkan isi tiap cerita itu kian menegaskan keahliannya sebagai ilustrator kesohor. Bahkan, dengan adanya ilustrasi tersebut, kita bisa melihat bahwa Pidi Baiq sungguh serius menuliskan kumpulan kisah ini.

Akhirnya, jika setelah membaca buku ini kita hanya mampu tertawa, yakinlah ada yang salah dengan jiwa, hati, dan pikiran kita. Tak berlebihan kiranya jika saya berpendapat bahwa masyarakat Indonesia (dan pencinta sastra khususnya) patut menyambut buku yang ditulis oleh mantan Dekan FSRD International University Bandung sekaligus vokalis Depanasdalam-ini dengan suka cita. Sebab di negeri ini masih ada orang yang mau membangkitkan canda tak sekadar tawa. Sayangnya, Pidi Baiq tak menciptakan tokoh humor yang baru macam Si Kabayan-melalui Drunken Monster. Namun, sekali lagi, kita bisa maklum; "namanya juga catatan harian". (Denny Ardiansyah, kurator buku, peneliti kebudayaan pada Society of Sociological Analitic for Democracy).***